-->

Tempat Persembunyian para Pejuang Berada di Desa Siluman Subang Jabar

Subang, Sport And Health - Belakangan ini 'desa siluman' hangat diperbincangkan publik. Itu merupakan sebutan desa fiktif yang diungkap Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menerima program Dana Desa. Artinya, 'desa siluman' merupakan desa tak berpenghuni, namun mendapat kucuran Dana Desa dari pemerintah.
Ilustrasi Desa.( source pixabay )

Rupanya, Desa Siluman memang ada. Namun, ini bukan bukanlah desa fiktif yang disebut tetap menerima Dana Desa meski tidak berpenghuni. Desa ini berada di Subang, Jawa Barat, tepatnya di Kecamatan Pabuaran. Ya, namanya memang Desa Siluman.

Nama Siluman diambil dari sebuah nama kali kecil bernama Cisiluman yang kini menjadi bagian Desa Kedawung. Menurut sejarahnya, kali tersebut menjadi tempat aman pelarian dan persembunyian para pejuang pada zaman penjajahan Belanda.

Setiap kali bersembunyi di kali Cisiluman, para pejuang itu seolah lenyap dan menghilang sehingga para penjajah yang mengejar tidak dapat menemukannya. Oleh karena itu, untuk mengenang sejarah, daerah akhirnya menjadi permukiman penduduk itu menjadi sebuah desa yang diberi nama Siluman..

Desa Siluman ini terletak di sebelah barat, sekitar 51 kilometer dari pusat kota Subang dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Purwakarta. Dulu, mayoritas penduduk di Desa Siluman mayoritas bertani. Namun, saat ini banyak dari mereka yang beralih menjadi buruh dan pedagang.

Selain itu, ada juga cerita terkait kejadian-kejadian aneh yang beredar di masyarakat Desa Siluman. Mulai dari pedagang asing yang baru berjualan di sana akan tersesat, orang yang akan berbuat jahat menjadi linglung, hingga cerita aliran Sungai Cisiluman yang konon mengalir terbalik dari hilir ke hulu.

Terlepas dari cerita-cerita maupun sejarah panjangnya, nama desa tersebut memang unik dan mengundang penasaran. Meski kedengarannya aneh, bahkan terkesan menyeramkan bagi orang yang baru pertama mendengar, namun nama tersebut biasa saja bagi warga Desa Siluman.
(sandi)
Sumber : Kumparan.

Baca juga

Post a comment